Feb 29, 2016

We Are The World, We Are The Children

DSCF2176

Setiap orang, tuh, sebenarnya punya passion terhadap good cause tertentu, cuma good cause-nya beda-beda. Misalnya, temen gue ada yang passionate banget terhadap kesejahteraan anak. Dia paling peduli sama nasib anak jalanan, anak terlantar, anak korban abuse, dan lain sebagainya.

Ada orang yang passionate sama kesejahteraan petani lokal, ada orang yang passionate sama kualitas pendidikan, ada orang yang passionate sama hak-hak azazi manusia, dan lain sebagainya. Intinya, banyak orang kepengen membuat dunia a better place, cuma tanpa disadari, masing-masing punya prioritas yang berbeda-beda.

Jelek-jelek gini, sebenernya gue sendiri passionate terhadap lingkungan hidup, seperti isu-isu kesejahteraan hewan, eksploitasi lingkungan, sampah, dan sebagainya (ter-Leonardo diCaprio nggak sih? #ciyemenangOscar).

Nggak kepengen sekedar ikutan acara kampanye-kampanyean di jalanan (yang sering gue ragukan keefektivitasannya), gue pun menyalurkan bentuk kepedulian gue dengan caraaaa…





… apalagi kalo bukan nge-brainwash anak sendiri!

Udah hampir setahun Raya nggak gue ajak ke kebun binatang, sirkus binatang, dan berbagai bentuk eksploitasi hewan lainnya. Gue tanamkan pemikiran ke Raya bahwa sebenarnya binatang-binatang yang terkurung itu sedih sekali, karena rumah mereka bukan disitu. Gimana perasaan Raya kalau Raya dikurung dan nggak boleh pulang ketemu Ibu lagi?

Gue juga kasitau Raya bahwa perilaku hewan captivity juga jadi nggak normal. Kodrat lumba-lumba adalah berenang di laut lepas, dan kodrat beruang adalah nerkam Hugh Glass bebas berburu di hutan. Bukan meloncati lingkaran api atau naik sepeda roda tiga.

Gue juga cerita ke Raya tentang penebangan liar, tentang poaching, tentang harus meminimalisir sampah, tentang kemaruknya umat manusia. Tentunya semampu dan sepanjang pengetahuan gue.

Ada banyak perdebatan hot di Internet, tentang apakah melarang anak ke kebun binatang adalah keputusan yang tepat? (misalnya di kolom komen artikel ini dan ini). Banyak yang sangsi dan kontra, tapi ada juga yang pro. Yah, namanya juga manusia, ya—apalagi manusia-manusia di Internet—apeee juga hobi banget didebatin!

Pro-kontra begini wajar, kok. Semua hal ‘kan punya dua sisi, and I stand by my side of being an anti-animal exploitation. Daripada nggak punya prinsip?

Hasilnya, tuh, “emezing” banget, lho.

Suatu hari, di sekolah, temennya Raya ulangtahun. Trus, pas pulang sekolah, gue samperin si bocah ultah—yang kebetulan lagi bareng ibunya—trus nanya, “Selamat ulang tahun, ya, sayang! Asyik banget, niiih… Mau dikasih kado apa sama Mama?”

Si bocah ngejawab, “Aku mau jalan-jalan ke kebun binataaaang…”

Lalu nyaut lah Raya dari samping gue, “WAH, KEBUN BINATANG ‘KAN JAHAT! BINATANGNYA SEDIH SEMUA, YA ‘KAN BU?!”

Gue pun hanya bisa bisik-bisik, “Iya, Raya.. iya… shhh… shhh…”, tersenyum kaku a la manekin ITC ke ibunya, trus melipir bak kepiting.

Trus, setiap kali Raya ketemu akuarium, dia bakal memandang penuh iba ke para ikan sambil bilang, “Ini sedih semua, ya, Bu? Ikannya sedih semua?” Termasuk akuarium di supermarket, restoran-restoran cina, dan rumah para om-tante :D

Raya juga pernah excited nonton acara mancing-mancingan di TV, tapi begitu ditawarin mancing di empang beneran, Raya menolak. Dengan alasan, kasian.

Trus, beberapa malam yang lalu, percakapan ini terjadi:

Raya: “Bu, orangutan ada di Jakarta nggak?”

Ibu: “Nggak. ‘Kan Ibu bilang adanya di Sumatra dan Kalimantan.”

Raya: “Kenapa, sih, Raya nggak pernah diajak ke Kalimantan sama Sumatra?”

Ibu: “Soalnya... jauh.”

Raya: “Kalo jauh, kenapa orangutannya tinggal di sana?”

Ibu: *ngakak dalam hati* “Mmmm… soalnya di sana itu ada banyak hutan. Di dalam hutan pohonnya banyaaaak sekali. Nah, orangutan ‘kan senengnya tinggal di pohon. Apalagi kalo pohonnya banyak.”

Raya: “Tapi ‘kan di Jakarta juga ada pohon?”

Ibu: “Iya, tapi pohonnya sedikit. Nanti nggak cukup. ‘Kan orangutannya banyak.”

Raya: “Tapi dulu Ibu bilang orangutan udah tinggal sedikit?”

Ibu: *lalu mati kutu. KOK INGET AJA?* “Iya, sih, memang tinggal sedikit. Tapi tetep aja, pohon di Jakarta itu nggak cukup. Tau nggak kenapa? Soalnya semuanya ditebaaang! Buat mall! Buat gedung! Makanya Jakarta panaaas, pada nggak betah deh orangutannya, blablabla…”

Lalu gue pun berkicau bak aktivis Greenpeace marah-marah depan gedung DPR.

Dilemanya, Raya itu sebenernya suka banget sama tempat rekreasi yang berbentuk peternakan, kayak Kuntum Farmhouse di Bogor itu, lho.

Tapi sekarang dia konflik batin, sodara-sodara! Karena dia mulai mikir bahwa peternakan-peternakan begitu adalah sebentuk kekejian terhadap binatang juga. Jadi dese mellow, deh, kalo lagi mikirin sapi dan kambing di peternakan yang—menurutnya—nggak hepi. Ciyan, yah?

Gimana cara gue menjelaskan bahwa kambing, sapi, kelinci adalah binatang ternak dan domestik? Iya, gue juga marah kalo baca-baca soal eksploitasi ternak sapi dan kambing demi profit setinggi-tingginya, tapi gue sendiri merasa sapi dan kambing memang belong di peternakan (asalkan perlakukannya berperibinatangan dan nggak dieksploitasi… but how can you be sure? Ih, gue juga kurang baca-baca, nih! Aktivis palsu!)

Dalam menanamkan values, memang banyak gray area seperti ini, ya.

DSCF2182

DSCF2192

Sekarang ini, gue memang pengen menanamkan values yang (gue anggap) benar secara dogmatis ke Raya. Kalo pas udah gede Raya punya pendapat lain soal eksploitasi lingkungan hidup, ya terserah (eeeh, tau-tau akhirnya jadi pengusaha sawit. Iiih jangan ya, nak… Ibu nggak restu!). But as long as I am raising him, gue semacam merasa punya tanggung jawab untuk “mendoktrin” dia dulu.

Pertanyaan yang sering muncul di pikiran gue adalah, gue mau se-dogmatis apa? Dan gimana caranya supaya gue bisa konsisten?

Dengan pola pikirnya yang masih sederhana, gue siap nggak kalo Raya nanti jadi anak yang kesel sama semua orang yang memelihara (dan mengkandangi) binatang? Kalo sekolah Raya mau field trip ke kebun binatang atau Sea World, apakah gue bakal larang Raya ikut?

Trus, kalo lagi napsu-napsunya, tanpa sadar gue juga sering menempatkan manusia sebagai villain di mata Raya (yabis, kalo baca berita-berita kayak gini, gini, dan gini, emang manusia, tuh, suka geblek banget nggak, sih?). Nah, will I be creating some kind of hatred on my son’s mind?

Padahal ini baru values yang masih agak hitam-putih, ya. Belum kalo tiba waktunya gue ngajarin values yang lebih vital, kompleks, dan terdiri dari all shades of gray, seperti—you guessed it!—agama.

*langsung buka direktori guru ngaji se-DKI Jakarta*. 

Pada intinya, gue masih bingung mencari cara yang paling efektif untuk menanamkan rasa peduli lingkungan ke Raya. Gue sendiri juga takut nggak konsisten. Jangan sampe tempo-tempo gue berkicau begini, tempo-tempo melihara Kakaktua langka, tempo-tempo lupa mulu bawa kantong kain buat belanja.

Yang pasti, Leonardo diCaprio nggak akan take this planet for granted, and my son won't too. Siapa tau kapan hari menang Oscar juga, ya! #nyambungbangetLa

8 comments:

  1. Duh susah banget ya parentinggg. Jadi kepikiran kalo aku punya anak ntar gimana ya :( Buat
    Raya, grow up healthy and happy and thoughtful trus ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiiin, makasih ya Tante Fradita. Nulis buat Youthmanual lagi dong! :D

      Delete
  2. Daleeemm mba Lei..
    Dari paragraf awal hingga akhir, aku ngertiin banget *puk-puk* *sok ikrib* ;)
    Setelah punya anak, segala seuatu yang idealis, terutama yang berkaitan dengan penyelamatan lingkungan hidup dari hal-hal sederhana pun rasanya perlu pemantapan strategi untuk menerapkannya.
    Dulu rasanya hitam putih saja, negur sesama teman yang buang sampah sembarangan (dengan sopan) itu biasa. Situ tersinggung pun, ya ga masalah, cuekkin sajalah.
    Sekarang setelah punya anak, berusaha mengajarkan hal sesimpel "buang sampah pada tempatnya" sulitnya rasanya minta ampun. Masih terbayang, gimana ekspresi anakku dengan pandangan kebingungan karena keterbatasan berbicara (anakku baru 1,5tahun) saat diperintahkan eyangnya untuk membuang kotak susu UHT yang sudah habis diminum ke laut saat main di pantai. Disatu sisi kami orang tuanya mengajarkan untuk patuh pada orang yang lebih tua, tapi disisi lain, selalu buang sampah pada tempatnya juga value utama yang selalu kami ajarkan. Bagaimana selanjutnya? Saat anakku bergaul dengan (mayoritas) warga pulau kami yang selalu dengan seenaknya melempar sampah harian mereka ke laut. Padahal ada TPA ditunjang mobil pengangkut sampah setiap hari. Sepertinya kebiasaan dari nenek moyang sulit diubah, bahkan pernah baca saat ini Indonesia adalah negara penyumbang sampah dilautan terbesar kedua.
    Maaf jadi panjang dan ikutan curcol balik, semoga masih banyak orang tua lain seperti mba Lei, mau memberikan awarness bagi anak-anaknya, bahwa nasib bumi,
    khususnya Indonesia ada di tangan mereka kelak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aduh Mbak, aku jadi ikutan tergugah dengernya.

      Tapi Mbak, aku yakin banget, akar prinsip anak itu datang dari orangtuanya. Kalo kita "doktrin" anak dengan baik dan konsisten, Insha Allah anak akan "kebal" sama pengaruh luar. Mungkin dia bakal sekali-kali bandel ikutan temennya buang sampah sembarangan, tapi doktrin kita akan mengakar di pikirannya sampe dia gede, kok. Pede aja Mbak! Aku yakin, deh :D

      Yang PR adalah, KITAnya harus konsisten bgt hehehe. Bagiku ngasih awareness ke anak itu wajib, deh, Mbak, terutama awareness yang punya impact ke dunia (lingkungan hidup maupun umat manusia). Aku pribadi nggak kepengen anakku sibuk fokus mengembangkan dirinya sendiri doang. Pengen pinter sendiri, tajir sendiri, sukses sendiri, tanpa mikirin dunia.... dan akhirat (hahaha, BERAT BANGET?). Eh, tapi ini pribadi aku aja sih hehehe.

      Sukses terus, dan semoga selalu istiqomah dalam menanamkan valuesnya ya Mbak!

      Delete
  3. Aku juga dr SMA punya passion terhadap lingkungan, jadi udah sering banget kalo bikin essay aku tulis dampak penggunaan plastic bags buat ekosistem, terbuat dr apa kertas yang kita buang setiap hari, sampe kalo mau print out bukti transaksi di ATM mikirnya 1000x. Aku blm punya anak sih tapi sempat mikir juga hal diatas bagaimana kalo punya anak, belum pernah sih buka pro dan kontra nya di internet mengenai apakah anak harus diajak ke kebun binatang atau gak usah(masih perdebatan di dalam hati sendiri aja).Kan kacian kalo anak cuma bisa liat binatang-binatang dalam gambar, pasti beda kalo bisa liat langsung tapi disisi lain juga ada pemikiran kayak kak lei di atas...huhuhuhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, Alhamdulillah dong, Luk. Kalo kita punya "consumer's guilt" alias perasaan bersalah sebagai konsumen (karena banyak pake plastik, kertas, nyampah, menyumbang kepada cheap labor), itu aja udah langkah awal yang baik. Aku juga masih jaaauuuuh dari "hidup hijau" yang sebenarnya.

      Pelan-pelan aja Lukkk, nanti kalo punya anak juga pasti berjalan sendiri, kok hehehe.

      Delete
  4. Hai Mbak Lei, so far jadi silent reader, tapi akhirnya aku tergugah juga.

    Parenting ini memang super ribet, but as my super-wise in-laws told me, kunci nasihat itu adalah.. kita boleh judge perilakunya, bukan orangnya. Misalnya, mencuri itu tidak baik, tapi kalau si pencuri itu belum tentu tidak baik (contohnya dia kepepet karena kemiskinan blablabla.. at least dia pasti pernah baik juga kan). So far, ini cara termudah untuk melihat sesuatu jadi lebih objektif, meskipun semakin tua pasti semakin kita tau betapa riweuhnya dunia inii..

    Dan aku setuju banget, orang tua pegang peran penting utk menanamkan prinsip2 hidup, jadi it's okay to raise awareness for good causes sejak dini (namanya juga baik), they'll thank us later :)

    ReplyDelete
  5. Ini soal binatang2an gw banget... *manggut-manggut. Kita jarang beli daging2an, dan selalu beli ikan dari nelayan (bukan ikan budidaya/ikan tambak) karena prinsip bahwa cuma hewan yg hidup liar dan diburu dengan terhormat yg layak dimakan, hehehe....

    Gong-nya memang masalah agama ya Lei... kami pun concern terbesarnya masalah ini, karena agama bakal mempengaruhi banyak pilihan lain. Pilihan sekolah, misalnya. Karena kami berdua dari keluarga gado-gado alias beda2 agama, maka poin yg paling krusial adalah bagaimana mendidik anak-anak bahwa berbeda itu tidak apa-apa. Yang artinya, sekolah yg ngajarin "kita masuk surga, agama lain masuk neraka" udah jelas bhay ya... Bahkan kita sudah sepakat untuk menunda ngajarin agama yg terlalu dalam sebelum common sense dan conscience nya anak2 muncul dulu. Ini pilihan yg bikin kami sering banget dituding macem2 oleh teman2, tapi menurut gw sih every family has its own issues ya... yg menjadi main concern di satu keluarga belum tentu jadi perhatian di keluarga lain.

    Thanks ya Lei tulisan2 parentingnya. Sangat awakening dan enlightening buat gw untuk tahu pandangan2 orangtua2 lain (yang pastinya beda2)

    ReplyDelete