Jan 17, 2016

Seni Adalah (Muka) Aku

DSCF2402

Gara-gara budaya oversharing di sosial media, kenarsisan manusia memang jadi nggak terbendung.

Contohnya, sekian kali gue datang ke berbagai pameran seni lokal, isinya ya cuma dedek-dedek pepotoan semua. Entah selfie, foto berdua pacar, atau foto sendirian (foto rame-rame a la iklan Osella tahun 90an udah nggak laku, ya). Semuanya dengan pose-pose OOTD.

Dulu, para seniman—at least yang ada di lingkungan gue—sebel banget sama dedek-dedek yang pepotoan bareng karya mereka gitu. Mungkin selain karena terganggu menyaksikan perilaku manusia yang sedemikian narsisnya, juga karena karya mereka jadi nggak dilirik. Dunia ini cuma latar belakang foto, Kak! Yang penting muka aku, Kak!

Yang lebih parah, sih, kalau pepotoannya sampai nyenggol karya, lantas karyanya rusak. Sering kejadian, lho.

Tapi belakangan ini, budaya foto-foto di pameran sudah di-embrace oleh para seniman. Bukan didukung, sih. Kayaknya lebih antara disindir atau senimannya memang kepengen berdamai aja dengan masyarakat, dan merangkul para anak muda doyan foto. If you can’t beat them, join them, mungkin.

Bentuk merangkul/menyindirnya macam-macam. Misalnya, di pameran ArtJog 2015 kemaren, ada beberapa seniman yang mengangkat tema “selfie” lewat karya mereka. Contohnya, ada karya (buatan Nasirun?) berbentuk sekian puluh kacamata hitam, trus pengunjung dipersilahkan selfie dengan cengdem-cengdem tersebut. Banyak juga karya yang interaktif dan mendukung orang untuk berfoto bareng karyanya tersebut. Lagi-lagi, if you can’t beat them, join them.

Event pameran jaman sekarang juga lebih merangkul aktivitas foto-foto. Jarang ada larangan untuk foto-foto dekat karya, kecuali untuk karya yang memang mahal banget. Mungkin karena mereka kepengen lebih dekat sama masyarakat itu, ya. Nggak pengen karya seni dilihat sebagai sesuatu yang eksklusif. Mungkin mikirnya, "Ya udah, lah. Ngapain juga kita ngomel sama pengunjung yang foto-foto. Silahkan, dek, foto sepuasnya, dek. Karja ini milik rakjat!"

***

TAPI! GUE TETEP NGGAK SETUJU! *gebrak meja*

Sampai sekarang, kalau gue datang ke pameran seni trus ngeliat orang-orang cekrak-cekret foto-foto sepuasnya tanpa peduli sedikitpun sama karyanya, entah kenapa gue tersinggung, lho. Bahkan kalau karyanya memang terbuka untuk diajak foto bareng. Bahkan kalau senimannya sendiri cuek aja. Apakah karena gue snob banget apa gimana, ya?

Meskipun begitu, gue harus mengakui bahwa gue cukup paham dengan alasan mereka. Memang, sih, pameran seni kontemporer kebanyakan brengsek karena... susah banget dicerna! Mana bentuk karyanya seringkali abstrak dan nggak kece in a traditional sense. Entah guenya yang blo’on, atau karya seni kontemporer memang kebanyakan pretentious, yang pasti batok kepala gue sampai sering keringetan gegara berusaha keras mencerna—minimal, menikmati—karya-karya dalam sebuah pameran seni kontemporer.

So, contemporary art exhibition IS heavy. Sementara kebanyakan pengunjung Indonesia datang ke pameran seni—terutama pameran yang brand-nya “kekinian” alias dekat dengan anak muda—dengan niat mau seneng-seneng aja. Wajar lah, ya. Trus, namanya juga mau seneng-seneng, pasti pada ogah banget disuruh mikir atau mencerna. Cerna, cerna… emangnya kita lambung?!

Maka gue cukup paham kalau ujung-ujungnya, pengunjung pameran seni di Indonesia malas berusaha memahami karya. Ujung-ujungnya, karya sekedar dijadikan latar foto-foto pribadi. Art exhibitions becomes a giant photo studio. Pantes aja studio foto Malibu 62 udah nggak laku, ya (Malibu 62 banget? Ketauan angkatan tuanya)

Yah, nggak salah juga, sih. Hak masing-masing orang 'kan.

Cuma gini. Pameran seni di Jakarta ‘kan kebanyakan gratis. Menurut gue, alangkah sayangnya kalau kita bisa berkunjung ke sebuah ajang gratis, tapi kunjungannya nggak kita maksimalkan. Foto-foto bareng karya nggak apa-apa banget, tapi agenda main ke pameran ini sekalian dijadikan ajang memperluas wawasan dan critical thinking juga, lah. Bikin diri sendiri pinteran dikit, gitu. Minimal baca keterangan karyanya, trus berusaha memahami, seniman ini bikin apaan? Proses pembuatannya gimana? Kenapa bentuknya gini? Kenapa warnanya gitu? How does it makes you feel?

Kalau ujung-ujungnya nggak ngerti (atau nggak ngerasa apa-apa), ya nggak apa-apa juga, but shouldn’t we at least try? Iya nggak, sih?
***

Anyway, wherever your stand on taking excessive photos everywhere and anywhere, I found it highly amusing merhatiin orang-orang yang pada pepotoan.

Beberapa minggu lalu, gue datang ke pameran seni kontemporer Jakarta Biennale 2015. Trus, saking banyaknya pengunjung yang heboh foto-foto di sekeliling gue, gue sampai nggak bisa konsen merhatiin karya, dan pada akhirnya gue cuma merhatiin dan motretin mereka.

DSCF2529

Ada banyak banget fakta emeizing yang gue dapet, misalnya:

1. Masih meneruskan tren taun lalu, anak-anak jaman sekarang masih banyak banget yang nenteng kamera DSLR. Pemakaian DSLR-nya gimana? Wallahualam. Mungkin digunakan dengan setting manual dan hasil jepretannya pun kece. Mungkin settingan-nya Auto semua dan si pengguna tinggal jepret, tapi hasil fotonya tetep blur semua. Cedih.

DSCF2455

DSCF2396

DSCF2411

2. Walaupun banyak anak muda yang foto-foto dengan DSLR—bukan handphone—jelas sekali bahwa foto-foto mereka ditargetkan untuk masuk ke Instagram. Pose-posenya pun masih berkiblat kepada pose selebgram semua. Yak, teleng kanan! Sekarang teleng kiri! Jangan liat kamera! Yak, tawa-tawa ceria a la Andien! Yak, punggungin kamera, lalu kibaskan jaket!

3. Cuma cewek-cewek yang suka pepotoan? Ih, jangan salah. Cowok-cowok hari gini pun centilnya ‘kanmaen.

DSCF2461

DSCF2414

DSCF2524

DSCF2494

"Udah? Belum? Udah belum, bray?!"

4. Yang kasian, sih, kalau ada cowok yang nggak suka foto-foto, tapi datang bareng ceweknya yang gila foto. Abis, deh, do’i disuruh-suruh motoin pacarnya dalam berbagai gaya, angle, serta pencahayaan.

DSCF2459

DSCF2503

DSCF2513

DSCF2512

#instagramhusband for lyfe. Pegeeel... T__T

5. Banyak anak muda datang ke pameran ini khusus untuk foto OOTD. Tau dari mana? know? Karena mereka bawa berbagai atribut (jaket, topi) yang nggak dipakai, tapi lalu dikenakan sebagai aksesoris pas pepotoan doang. Eysss.

DSCF2481 

Trus, di setiap ajang pameran seni, pasti ada aja sepasang muda-mudi pacaran yang memang dua-duanya suka foto-foto, misalnya...

DSCF2521

DSCF2447

DSCF2421

DSCF2486

DSCF2487

Anjiiir, bawa tripod banget, sisbro? :D *lalu pemotretan pribadi*

... tapi di kunjungan gue ini, award Pasangan Terkonsisten Foto-Fotoan harus banget diberikan kepada...

DSCF2443

DSCF2450

DSCF2488

DSCF2489

DSCF2490

Tak kenal lelah, ya. Mental modelnya mateng banget nggak, sih?!

And here's the rest...

DSCF2416

DSCF2425

DSCF2483

DSCF2525

DSCF2476

DSCF2478

Sejurus setelah mereka ditegor sekuriti, karena kaki dan punggungnya pada nyender ke karya. Eaakkk.
 

65 comments:

  1. Sumpah kak Laila aku ketawa ketawa baca postingan ini. Great point of view banget :D

    ReplyDelete
  2. Hi Lei, gue jadi inget pembahasan gue dengan pacarnya temen gue (sebut saja Toni, bule, ahli politik, kerja di UN). Kita ngebahas tentang seni, karena dia tau gue lulusan DKV (dikira berbobot kali ya ilmu gue ttg seni). Ngalor ngidul cerita, sampe gue bilang..
    "Dulu ya seniman buat terkenal ngelukis Sistine Chapel sampe mati. Skrg gampang bangettt.. Foto aja anak kecil dengan kondom raksasa kayak di Mumok (Vienna), trus jadiin headline deh"

    Trus dia bilang
    "Lho menurut lo sendiri seni itu apa?
    Lo yang bilang kan seni itu abstrak. Mengikuti peminatnya. Kalau memang audience tertarik dg issues (dan visual) seperti itu, trus kenapa kita hakimi?"

    DUARRRRR..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha emang baner bangeeet... Walaupun kita pasti punya selera, definisi dan preferensi masing-masing, seni jangan didebatin deh, soalnya subyektif banget. Kayak anak generasi 90an yang selalu ngotot generasinya lebih baik daripada generasi sekarang. Ribet!! :))

      *contemporary art is still not my thing, tho* :D

      Delete
    2. temen ente keren. welcome to contemporary art, emang wilayah yang beda sama lukisan sistine chapel, satunya datang dari imajinasi, satunya lagi rekontruksi dari pengamatan.

      Delete
  3. Poin (4) dan (5) pecah banget kak Lei!!! standing ovation bawa tripod... tapi memang era-nya sekarang begitu. Sayang padahal udah dateng ke suatu tempat tp ngga ‘meresapi’ cuma asal ‘yang penting ada fotodan posting di socmed’ padahal melakukan kedua hal itu sebenernya lebih bermakna *haiahhh*...

    thank you for posting this :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pecyah yaaa, tripodnyaaa :D Hehehe makasih ya Karina...

      Delete
  4. :)))) ini lo harus bikin pameran foto-foto orang lagi selfie ini, lalu nanti di pamerannya pengunjungnya selfie sama foto2 orang selfie tadi.. #gakkelarkelar. btw disini pernah ada pameran sculpture by the beach gitu, emang diperbolehkan / dianjurkan untuk foto2 untuk nanti share di soc med kan, sampe dibagiin tongsis dong ya.. terus ada satu karya, cuma box transparan.. namanya selfie box, kalo malem lampunya nyala, kayak kaca2 artis kalo di make-up in gitu. orang2 boleh masuk dan foto.. dan itu ngantrinya masya Allah.. kayak ngantri beras jaman perang! (gue pun ikut ngantri *nunduk sedih)

    eh gue pun suka benci pameran seni kontemporer, karena gue gak ngerti batasnya dimana itu seni sama sok2an seni. soalnya pernah dateng ke salah satu galeri kontemporer ternama disini, terus ada pameran yang isinya karya2 yang gak selesai.. terus gue nanya intinya apa? kalo nunjukin proses, prosesnya dimana? wong ada yg cuma urek2an ceker ayam di jurnal.. apa yang ditunjukin? terus kuratornya bilang, ya ini mereka nunjukin aja dalam satu proses bikin karya, kadang bisa selesai, bisa juga dikentangin gini. nyeraahhh brayy!! *angkat tangan*

    jadi udah nyerah deh, kalo visualnya bagus dan gue bisa ngerti ya bagus. kalo gak ngerti, gue sama temen gue kadang suka ngarang2 aja bikin artist statement, biasanya pake kata2 njelimet terus cekikikan sendiri.. mungkin kalo artistnya tau KZL kali ya. :)))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hanjiiiiiir, Marisa kesel banget gue denger karya nggak kelarnyaaa :D Iya, sih. Batas "what is art" dan "what is not art" emang selalu tipis dan subjektif banget. Kalo di Jakarta, gue paling emosi liat instalasi seni yang disusun dari found objects. Pokoknya segala sampah, kaleng, bungkus Indonmie, beling bekas bisa disusun trus disebut INILAH SENI!! Mamam noh.

      Pokoknya kita nggak usah nurut kurator, kritikus atau ahli-ahli lainnya. Suka-suka aja, ya. Kalo kita bilang bagus ya berarti bagus, enggak ya enggak. Some modern art I like, but most of them syusyaaah bray syusyaaah... Suka suka dah!

      Delete
  5. ngakak gue kebayangnya elo stalking-in dedek2 ini bak paparazzi :)))))
    gue lihat yang pameran cengdem2 itu di ArtJog dan pas melihat itu selintas gue pikir... "dijual, ya? eh, ini dijual gak sih?" ahahaha... belanja molo maunya siss...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Trus refleks nyari token e-banking di kantong, ya :D Onlensop banget, sisss...

      Delete
  6. Sukak pake banget deh sama semua hasil jepretan Mba Lei di atas! Benar-benar memotret kenyataan jaman sekarang. Gak mau bikin pameran, Mba? :p Liat foto-fotonya ketawa sendiri ga abis abis. Aneh dan niat banget yeee mereka pose nya.

    "Ujung-ujungnya, karya dibuat latar foto-foto doang" Ini sih iya banget. Karena buat jaman sekarang kayaknya g penting apa arti latarnya, yang penting HARUS difoto lalu upload di medsos. Karena satu post kekinian di instagram menaikan harkat beberapa derajat. *buang cermin* Hahahahaha

    ReplyDelete
  7. sumpee, manusia2 itu difoto ama loe apa ngga berasa? Apa jangan2 malah ambil pose dipikir bakal dimasukkin kemana? hihihi

    ReplyDelete
  8. ((mamam noh))
    hihihihi
    Kirain akyu saja. Suka khilaf deh, gak usah di pameran seni (scara jarang juga tahu dan nongol nonton ke pameran); liat orang-orang pada selfie berulangkali di mol, resto, diri ini langsung sinis dan memandang nista. Hahaha.
    Padahal setelah melihat sekeliling, eh loh, sahabat2ku suka pada selfie dan pepotoan diri juga. Kalo kenal kok jadinya gak ganggu ya? #doublestandard hahaha
    Aku pernah ke Musium Selasar Sunaryo di Bandung. Gak ada satu pun yang pepotoan. Akik minder mau liat karya seni, gak ngarti. Temen yang pernah jadi mahasiswa Sunaryo trus ngajarin sesuatu yang jadi pedoman sampai sekarang "Lo liat art di depan itu gimana?" Jadi pas masuk ada sesuatu yang digulung kain hitam diiket tali. Aku liatnya langsung ngeri karena bayangin itu mayat (kebanyakan nonton CSI, Bones dan sebangsanya) "Ngeri." - "Nah itu lo udah menikmati seni. Sewaktu lo merasakan dan memikirkan sesuatu karena apa yang dipajang oleh seniman, itu lo sudah menikmati seni." Gue ber-ooo walau tetap sampai sekarang gak pede kl udah ketemu seni yang abstrak banget ;P

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu bener banget, lho. Kalo kamu ngerasain efek seni, walaupun setitik aja, it already means something :D (asal ngomong aja nih gue, biar keliatan pinter... hihihi)

      Delete
  9. malah ngakak liat yang lagi pada heboh selfie... yahh untunglah masih pada mau dateng ke pameran seni walo cuma buat popotoan :D

    ReplyDelete
  10. Epic banget sih ini pepotoan selfie-nya! Aku liatnya antara gemes2 pengen jitakin satu2, tapi pengen ngikik2 juga liat beberapa pose ajaib (#instagramhusband) plus yang sempet2nya pose sambil cium pacar. Dan tripod! Ohemji. Aku pengen ikut kamoh, Kak! Kapan ke pameran seni lagi? Aku mau ikutan jepretin orang2 yg lagi selfie (pake karet gelang, bukan pake kamera).

    ReplyDelete
  11. ya ampuuunn.. ngakak aku mba Leii bacanya.. Itu mereka nyadar ngga ya kalau difoto sama mba Lei, pun apakabar kalau lagi main ke blog mba Lei ada fotonya dipajang di sini "wow. aku terkenal" (itu kalau gue).. dan paling juwara adalah #instagramhusband itu ..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pas difoto, mereka ada yang nyadar, ada yang nggak. Kebanyakan sih nyadar trus cuek aja :D

      Delete
  12. Ya Ampyuuunn liat postingan ini kayak liat masa lalu, wkwkwkwk. Dulu suka banget gitu, tiap ada background bagus selfie, foto ootd, tiap mau pergi ke tempat wisata, banyakan foto2nya daripada menikmati pemandangan nya atau lokasinya, tapi sepertinya semakin mature *ceilemature, kebiasaan itu mulai berkurang bahkan ilang. sekarang kalo liat poto di hape udaahh jaraaangggggg bgt foto selfie (kalo wefie masih ada ya). Dan sebenarnya lebih indah kalau kita bisa menikmati moment daripada sibuk sendiri poto, capek cyiinn.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenernya aku pun punya semacam "penyakit" ini lho, Luk. Bahkan sampai sekarang. Penyakitnya adalah, kalo aku pergi ke suatu tempat atau melakukan suatu hal baru, pasti yang pertama kepikiran adalah, "Ah, ini nanti musti ditulis di blog!" Trus aku sibuk motret sana-sini, sampe nggak menghayati tempat atau aktifitas aku itu. It took away the whole experience banget, dan kebiasan ini harus dipatahin, lho.

      Delete
    2. jangan mba lei... saya menikmati blog nya kok...
      *peluk kakak*

      Delete
  13. sumpah sumpaaaah jd km moto2in org itu semua :D:D reminder yg bagus banget, jd ky baca pikirannya suami gue mba hahahaha...

    ReplyDelete
  14. LOVE your point of view, writing & everything!

    ReplyDelete
  15. Beberapa waktu lalu pas dateng ke pameran arsip, ada mbak2 heboh foto sendiri pake tripod sambil pose- pose di kursi. Ga cukup cuma duduk aja, dese juga naik kursi lanjut pose a la matsyana pose sampe akhirnya... dese nyenggol partisi di belakang sampe tuh partisi goyang-goyang ga karua . Untung nggak ambruk >.<
    Asudahlah... pasrah deh sama yang begitu :v

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pernah ada yang sampe mecahin patung puluhan juta. Whaaaaat...?!

      Delete
  16. kesetrum eh sedikit kesindir aku kakaaa.... tapi untungnya aku belum pernah pepotoan di pameran seni. tapi kalau sok-sok jd objek foto seneng2 banget. jadi bahan introspeksi nih kalau pepotoan di tempat umum mesti lebih ati2, takut masuk postingan orang lain, macem sampeyan ini mba... hihihi....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eeeeh, jangan gituuu.

      Sebenernya inti dari tulisan ini ada di paragraf awal-awal, yaitu foto-foto tuh BOLEH BANGET, asal proporsional dan pada tempatnya. Akyupun suka fefotoan dan ber-sosmed dengan norak, utamanya di tempat rekreasi, di mana para pengunjungnya memang di encourage untuk fefotoan.

      Tapiii... kalo kita berkunjung ke tempat non-rekreasi, sebaiknya jangan sampe lupa tujuan utama atau tujuan yang lebih penting di kunjungan kita tersebut, deh *elus jenggot bijak*

      Delete
    2. hihihii... setuju mba lei, emang bener kalau mau foto2 harus liat2 tempatnya, pun saat harus pake properti. kayak di disney yang gak boleh pake tongsis, ya harus nurut kalau gak bisa diomelin petugasnya.

      Delete
  17. siapa tau nanti kalo bagus jadi ada yang endorse sis...:p

    ReplyDelete
  18. Mukanya pada gak di blur Kak?
    Memang sih, ada masanya kami yg masih muda2 ini norak nan lebay bin alay
    diposting buat bahan ketawaan sbenernya fine2 aja siyy.. (iya saya ngaku saya juga malah ikutan ketawa miris dan ngeledek)
    tapi lagi2, gak di blur Kak?

    Kalauu, Kalau loh ya, kalau suatu saat Kakak ternyata (dianggap) bertingkah norak oleh orang lain (yg lebih smart, lebih sophisticated, lebih..lebih lah) (iya saya sengaja gak pake basa inggeris yg baik plus segalagala grammar-nya itu)
    Laluu somehow difoto, terpampang mukanya di blog orang, Kira2 gimana Kak?

    Udah itu aja sih. hehe.

    ReplyDelete

  19. Terlalu sibuk futa foto tapi gak peduli benda apa itu yg dipamerkan,
    karena (sekadar) jadi background foto narsis sang alay gaul.

    Alhasil, keluar dari pameran (atau museum) tsb, yg nambah pada dirinya cuma koleksi foto.

    Otak dan wawasannya tetep sama : kosong

    ReplyDelete
  20. wkwkwk...nah itu dia baiknya ke pameran untuk kontemporer kaya gini tuh dateng 2 kali minimal...sekali loe buat belajar ikutan tour muter2, diskusi biar ngerti meaningnya...sekali lagi buat loe foto2...jadi kalo orang nanya loe foto sama karya itu artinya apa loe bisa jelasin...ya kalo gak mau repot sih ya udh baca2 dulu sebelom foto biar pinteran dikit..terus patuhin cara2 berfoto yang baik (gak pake lampu flas, gak nyentuh atau injek2 karya sakit loh kalo ngotorin atau merusak sebuah karya seni, tidak membuat keributan,dll yg harusnya di lakuin) serius bakalan sayang banget loe ke pameran gak bisa nambah wawasan tapi cuman nambah koleksi foto doank..heheh...gue juga pernah dan sering foto2 kok di gallery tapi dulu gue lebih sibuk2 foto2 mikirin angel yang bagus sampe2 lupa nikmatin karya itu sendiri...akhirnya ya gue pilih cara tengah datengin tuh pameran 2 kali...sekali buat baca2 dan nikmatin semua karyanya, pas dateng kedua kali foto2 (dengan rambu2 yang ada) aja sambil inget2 karya2nya lagi...Pasti ada plus minusnya kalo loe foto2. Foto2 buat di medsos itu membuat orang2 tertarik dateng karena penasaran, tapi juga bisa membuat orang males ke pameran karena udh lihat2 foto2 yang disebar. Maka di beberapa pameran luar negri jarang banget boleh foto2 apalagi pake DSLR, minimal cuman boleh pake HP demi melindungi karya, hak cipta, dll. hahaha..sekian dari gue..just saran biar bisa nikmatin seni plus bonusnya bisa foto2..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa, dateng dua kali isdebes ya. Waktu "Aku Diponegoro" dateng tiga kali, sih, sampe akrab banget sama satpamnya huhuuuy.

      Delete
  21. mbak Leiii, maap banget nih gue ngakak ngakak baca postingan yang ini..hahahah keren! selalu suka gaya dan isi tulisannyaa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo si cantik Puput! Ahahaha... makasih yaaa :-* Aku juga selalu suka sama gaya-gaya kamu, beneran... dulu suka disontek hahaha

      Delete
  22. kemarin gw sempet pameran di dialogue, ada karya temen gue yang di gantung2 di langit2. itu sumpah masang nya berhari - hari penuh tangis dan darah. Terus dede/cici/koko gemes itu masuk ke tengah2 instalasi gantung itu dan akhirnya karyanya jadi kebelit - belit satu sama lain dan difoto. (^____^)

    Well, foto2 lo menurut gw udah jadi karya sendiri sih, "ketika pengunjung pameran menikmati pengunjung pameran yang tidak menikmati pameran"

    Anyway, can i have your email, i would like to have some coffee with ya and discuss your writing hehehe~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah karyanya kak Cempaka ya....
      bikinnya juga lama loh satu satu kita ngesculpture detailnya :'')
      Ternyata respon publik sama karyanya kayak gitu ya....


      Salam! *salah satu artisan ka Cempaka*

      Delete
    2. Halo Wangsit dan Reza. Kalo mau korespondensi (termasuk minta izin penggunaan foto-foto di sini), silahkan tengok alamat email di sidebar kanan blog ini, yaaa. Maaciiih...

      Delete
    3. hahah gua juga merasakan perasaan yang sama.

      kebetulan gua ikut beberapa kali guide kurator di hari sabtu/minggu dan ternyata emang tanpa penjelasan (cuman liat karya dan penjelasan singkat) itu aja gk cukup. gua setuju kata mba yg "contemporary art exhibition IS heavy".
      yaa karna emang gk jelas dan multi tafsir, tapi emang ada beberapa karya yang jelas sih..

      dan untuk tukang selfie , gua paling gk terima dengan poto menggunakan DSLR. arhghhh, gua tugas kuliah photography aja musti mati matian setting manual supaya dapet yang pas.. lah mereka malah...yasudahlah~

      tapi sangat di sayangkan sih pameran seni jakarta biennal yg menurut gua paling bagus ini tidak dimengerti maksud karya karyanya..

      wah campur aduk perasaan gua baca artike ini. thanks ya mba

      Delete
  23. Setuju bangett sama postingan ini, bagian "teleng kanan teleng kiri" bikin ketawa �� hahah officially a fan of your point-of-views

    ReplyDelete
  24. Karya seni yang dihasilkan jadi tak lebih daripada yang mana ... wallpaper.
    (Anjlog)

    Padahal,...

    ReplyDelete
  25. Seru ih baca posting ini dan suka hasil-hasil fotonya :D

    ReplyDelete
  26. Sebelum selfie dengan karya seni, resapilah dulu lagu Kesenian-nya Guruh Soekarno Putra eh Putri eh Putra..Putra Putri Bangsa deh!

    ReplyDelete
  27. Post ini oke banget Kak Lei hahaha. Mengenai karya yang dipajang di pameran, mereka mungkin ga tau gimana caranya si pembuat karya nemuin ide, menuangkan ke dalam karya, sama yang paling penting, instalasi karya. Temen aku dulu ada yang pameran di salah satu mall, jam 3 pagi bikin lapak tidur dari kardus di depan salah satu tenant demi ngejagain karyanya (karena satpamnya pulang -__-)

    The models-and-photographers-for-social-media didn't know the story behind :(

    ReplyDelete
  28. Hagahaaa yang baju merah foto foto di karya gw jangan sampai lolos

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makanya dinyanyiin Nyanyian Kode doong... :)

      Delete
  29. Seperti kata ST Sunardi: "kita tahu seni tidak dapat diperdebatkan, tapi kita tetap membicarakan dan memperdebatkannya". Hhe.

    ReplyDelete
  30. Fenomena apresiator exhibition masa kini nih, i feel this :p

    ReplyDelete
  31. Gw malah sering banget sampe terganggu dan merasa kesulitan untuk memahami karya setelah baca caption, karena tiba-tiba karyanya tertutup/terhalang/disenderin/dipeluk/DIGESER (What the fuck!!!) orang-orang yg foto-foto selfie/wefie atau apalah itu namanya, padahal jelas terpampang bahwa karya tidak boleh disentuh. Sambil cekikikan, setelah foto-foto langsung aja gitu ninggalin dan beralih karya lainnya. Yes, it's really annoying! Ga ada respect dari diri mereka ke diri mereka sendiri sebagai seorang pengunjung suatu pameran.

    ReplyDelete
  32. Ya ampun niat banget mba sampai foto2in orang2 yang lagi foto2.. trus diubah jadi cerita seru :) keren observasinya!

    semoga mereka bisa belajar menghargai karya seniman ya :)

    ReplyDelete
  33. suka banget tulisannya, sesuai dengan perasaan ku... salam kenal

    ReplyDelete
  34. Yg bawa tripod lah niay bgt hahaha. Aku jg termasuk yg kayak gini sebenernya tp ga heboh & ga ngehargain karya seni kayak foto terakhir. Nyebelin bgt itu yg terakhir, nyender aja salah ini kaki naik², kayak ga ngehargain yg bikin 😒

    ReplyDelete
  35. Ya Tuhan gue ketawa tapi miris banget bacanya hahahaha. Gue ga dateng ke Biennale tapi ke Artspace, campuran sebagai penikmat seni sama sebagai tukang foto, dateng awal-awal masih ngeliatin karyanya, lamaan dikit foto-foto, itupun yang difoto karyanya, foto sendirinya depan jendela doangan -_- To be honest meskipun gue juga mungkin mirip, tapi gue annoyed sama yang foto-foto selfie lama, terlalu deket, apalagi segala nyentuh hasil karyanya. Kalo agak sarcasm sih, mungkin pendapat gue semacam "lau foto doang, ngerti engga" meskipun gua jg ga ngerti hahahaha

    ReplyDelete
  36. Sumpah... Ngakak bacanya. Tapi nyes juga lihat pasangan setipe suka selfie... Kalau aku ya rapopo hahaha

    ReplyDelete
  37. dijadiin pameran foto aja fenomena kyk gini..

    ReplyDelete
    Replies
    1. masalahnya....


























      nggak ada yang mau ngajak aku pameran, Kak.

      Delete
  38. Wah setuju banget sama tulisannya,hahaha seni sebagai background foto,miris ya,cuma ya emang namanya juga seni,banyak karya yg menginterpretasikan ekspresi sang seniman,jadi ya si senimannya aja udah yg ngerti. Ada juga karya yang si seniman membebaskan perspektif si penikmat tentang karyanya. Jujur,saya saja sebagai sebagai relawan dari salah satu pameran seni kontemporer saja kadang masih sulit untuk mencerna karya-karyanya haha

    ReplyDelete
  39. Hi,
    I've been following your blog for a while, and generally love your posts, but...

    is it really ethical to post these photos? You took photos of these poor kids and published a blog post which does not exactly portray them in a favourable light, without their permissions?

    Not at all up to your usual standard, I'm afraid...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi "admin"! Internet ethic is a very gray and debatable area these days, but if one of these people came up to me and tell me that they mind, I'd be more than happy to remove (or censor) his/her picture. Thank you!

      Delete
  40. Waini juvvarak!That's why aku sejujurnya enggan dateng ke acara-acara begini, karena tujuannya mudah banget berbelok dari ngasih apresiasi terhadap suatu karya ke latar foto, demi feed socmed dan likes semata.Pengunjung sering salah fokus dan message dari senimannya sering nggak sampai.

    Soal majangin foto mereka di blog ini (halo, admin!), IMHO let them learn the hard way (in this keen way instead of slap them in the face directly) that there were always a huge sacrifice from all artists behind all exhibitions. Pardon my words, btw. *keji*

    ReplyDelete