Oct 4, 2012

"I Can't Change, Even If I Tried, Even If I Wanted To."*

Jaman kuliah, saya pernah nanya ke pacar (waktu itu). "Kalo kita nikah dan anak kita gay, what would you do?" Jawabannya, "Mungkin aku gebukin dulu, trus aku kirim ke pesantren." Jawaban itu saya amini. Saya tanya lagi, "Would you disown him?" Dijawab, "Maybe." Lagi-lagi saya amini.

Makin tua, teman gay saya makin banyak. Semakin dikit yang bentukannya Emon, semakin banyak yang bentukannya "normal" -- nggak cemen, gagah, berkarier cemerlang, and very strong. Akibatnya, saya menjadi sangat toleran dan mendukung persamaan derajat.

Tapi munafiknya, kalau Raya tumbuh nggak seperti bayangan saya, saya pasti tetep nggak akan terima.

Masalahnya... Raya tetap anak Ibu, dan meski hati ini pasti hancur, Ibu mana yang sampai hati kalau anaknya harus hidup dalam kebohongan?

PS. Ke-mellow-an sore ini disponsori oleh Expedia, yang bikin iklan kurang asem sampai hatiku mojrot. Kamfreeet, ente kamfreeet...

PPS. Kisah nyata. Makin kamfreeet... 

 

"My expectations of what Jill's life was going to be included a husband. So, when Nikki came to ask permission to marry our little girl, that startled me. I told her, 'This is not the dream I had for my daughter.'... [But] You come to terms with it. It's supposed to be this way."

*post title is from here

23 comments:

  1. hadew Lei, lama ngga ngblog, sekalinya ngeblog isinya bikin emak2 labil ini galau to the max T.T. I had to take a very deep breath after saw those videos, and ended up crying. I'm also a (single) mother of a 6 yo boy, and I'm very agree, with your statement: "Ibu mana yang sampai hati kalau anaknya harus hidup dalam kebohongan?" But for what it's worth, tulisan lo kali ini bener2 ngingetin gue lagi untuk selalu menanamkan nilai kejujuran ke anak gue, jangan sampe karena tataran sosial budaya, anak-anak ngga berani terbuka, even to their parents. Well, semoga hanya hal-hal baik yang terjadi sama anak-anak kita ya Lei, aminnn.
    Ps: punten pisan si emak2 galau ini panjang bener commentnyah :D Nulis terus ya Lei, I'm a loyal reader of yours :)

    ReplyDelete
  2. Cut Ayu: Aamiiin..! Semoga anak-anak selalu bisa terbuka sama kita ya. Ini ni buah pikiran dari jaman gue hamil. Gue selaluuu mikirin worst-case scenarios, "Gimana kalo anak gue disabled, gimana kalo anak gue autis, gimana kalo anak gue gay. What's my game plan?" Untuk yang terakhir, masih nggak ketemu jawabannya...

    ReplyDelete
  3. my gameplan for that last one so far cuma ini: love the shit out of him/her.

    ReplyDelete
  4. wait. that's a double-edged sword of a sentence right there. to clarify, my gameplan is to love and that's it.

    ReplyDelete
  5. Snd: :') I guess I'll do just that and pray his surroundings will do the same.

    ReplyDelete
  6. karena kasih memang selalu di atas segalanya ya mbak... :)

    ReplyDelete
  7. Lemes gue... lemes in terms of, I'm gonna have a baby soon, and in terms of ada beberapa temen gue yang fall into that situation, and I know the parents well.

    I guess we will never know what will happen in the future, except that we all will die, and nothing is actually constant. We worry so much about how society will perceive things, instead of thinking of how we can RESPECT people's decision. Ini bukan cuma soal yang terjadi buat kalangan gay in this case sexual orientation. Ini sebenernya fenomena yang terjadi untuk segala hal. Kita sebagai orang tua, pasti punya certain expectation. Termasuk pilihan anak kita soal agama, soal jurusan yang dia mau ambil, bahkan soal pasangan hidupnya. We always want to have control of our kids... it's just the nature, of being parents. Doesn't matter how old our kids are, they will always be our babies.

    ReplyDelete
  8. I don't know (yet) my game plan's either Lei. But I think I can start with be there for them, embrace with love and let's God do the rest. Sounds relief in denial maybe, but I will, I really will. After all I believe in “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 5) and “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."(Q.S Albaqoroh: 286). I do agree with Leony's, yes we do will never know what might happen in the future except we're all gonna die, and nothing's in life is actually constant. But I'm sure our love to our children, will do. Cheers to the rock and roll life of motherhood :)
    Ps: here's a link to an article I think you might like http://t.co/V7didvr

    ReplyDelete
  9. gue sempat mikirin ini juga. pertanyaan pertama yg muncul waktu itu "being gay itu bawaan fisiologis atau mental disorder?" (maaf kalo istilah yg dipakai kurang tepat atau agak judgmental, soalnya gue awam urusan psikologi atau kedokteran).
    gara-gara itu, gue jadi merasa perlu cari tau jawabannya... langkah pertama mungkin diskusi sama psikolog anak ketika ada kesempatan.

    other than that, in my opinion, for me there's no other option than to love him or her for who they are :) haha semoga pada penerapannya kelak gak seklise as it sounds.

    ReplyDelete
  10. Mba, kenapa oh kenapa semua postinganmu sejak kelahiran Raya selalu berhasil menguras air mata...

    "Gimana kalo anak gue disabled, gimana kalo anak gue autis, gimana kalo anak gue gay. What's my game plan?" Untuk yang terakhir, masih nggak ketemu jawabannya..."

    aku juga kepikiran dan belum nemu jawabannya.. *walaupun aku belum nikah*

    ReplyDelete
  11. Saya menolak untuk toleran terhadap cinta sejenis, bukan karena takut / risih dg omongan masyarakat, lingkungan atau keluarga, itu sama sekali tidak perlu saya khawatirkan, faktanya skrg banyak orang yang sudah sangat toleran terhadap fenomena ini (meski mungkin belum mayoritas). Saya tolak simply karena Allah larang.

    Kalau sampai kejadian pada keluarga saya, i'll do my best untuk mendukung dia sembuh (ya, saya akan selalu menganggap ini penyakit).

    Apa artinya hidup dalam kejujuran kalau di akhirat Allah ngga mau ampuni dia :(

    Ya Allah memang maha pengasih dan pengampun, tapi Dia sudah kasih aturan yang jelas di Qur'an & hadist tentang bagaimana kita harus hidup...

    Dan Allah tidak pernah menciptakan manusia salah, karena itu hasrat suka kepada sesama jenis itu adalah cobaannya. Mungkin bisa dianalogikan sbg kanker, yang harus dia lawan hingga akhir hidupnya.

    Maaf jadi bawa2 agama, tapi hidup seorang muslim tdk bisa terlepas dari agamanya :)

    Thanks for sharing, Mbak. sori komen saya panjang sekali.



    ReplyDelete
  12. Winkthink: Pastinyah :) Tapi milih cara mengekspresikan sayang itu yang bingung ya... Nggebukin trus masukkin pesantren kan juga bisa ekspresi sayang sebenernya, hik hik

    Leony, Cut Ayu: Setuju, setuju. Kita pasti pengen selalu ngontrol si anak, because we love them, we're older, so we think we know the best. But do we really?

    Sayang sama si anak itu pastiii banget, tapi lagi-lagi, gue masih nggak tau gimana mengekspresikannya kalau anak gue gay. Digebukin sampe "sadar"? Didukung pdhl bertentangan dengan agama and everything I believe in? :(

    Cut Ayu, thanks for the link yaaah. Majalah itu mantan kantor gue lho hahaha...

    Riska: Iya, gue juga awalnya bingung. Is it nature or nurture? Trus gue nggak cari tau juga sih, hahahaha... Gue percaya bahwa Allah nggak menciptakan manusia diluar kodratnya secara sengaja, but this: salah satu sahabat gue adalah gay, dan dia sadar sepenuhnya sejak kelas 5 SD. Udah nyadar naksir sesama cowok gitu, nah lho. Trus dese bawaannya juga sangat "biasa aja", laki banget malah.

    Contoh satu lagi: gue punya temen gay lain, nah yg ini ngondek dikit. Tapi hebatnya, ibadahnya luar biasa rajin. Sholat sampe yang sunah-sunah, ngajinya juga siang-malem. Pas gue tanya kenapa, jawabannya adalah karena pas emaknya tau dia gay, emaknya nggak setuju, tapi nggak marah juga. Padahal emaknya tipe mak-mak pengajian yang nggak metropolitan samsek. "Nyokap gue cuma diem seribu bahasa trus meninggalkan satu pesan: beribadahlah yang kuat. Dan gue pegang teguh itu, karena gue berterimakasih kepada Mamah yang nggak freak out ke gue." NYOSSS. Embuh ah.

    Yunipattina: Iya, bingung yah :)

    Anonymous: Iya, pasti kok. Saya juga paham banget perspektif kamu, karena saya juga sependapat, meski nggak sepenuhnya. Sbg Muslim, harusnya kita nggak mempertanyakan perintah Allah, sama spt Nabi Ibrahim nggak mempertanyakan perintah Allah untuk nyembelih Ismail. Tapi yang Nabi pun bisa nangis-nangis dulu sblm nyembelih putranya, apalagi saya yaaaa. Pasti hancur berkeping-keping kalo sampe harus memperlakukan anak saya "penyakitan".

    I don't know what would I do, karena saya juga nggak mau menentang agama, tapi juga nggak mau membuat anak saya merasa seperti sampah. Tricky :)

    Kalo iseng, mungkin bisa baca link yang dikasih Cut Ayu diatas http://www.aquila-style.com/focus-points/freedom-to-love/

    ReplyDelete
  13. I love my gay friends to the moon and back, but thi is very VERY tricky.

    ReplyDelete
  14. Ealahhh, ga tau pun gue kalo lo pernah di majalah itu :D You're most welcome ya Lei ;) Sekali lagi gue cuma mau nambahin dikit, kalo berdasarkan temen-temen gue yang gay, dan aneka macam literatur dan artikel yang gue baca, IMHO ya, gay itu ada dua macam. Ada yang born to be, dan ada juga yang karena pengaruh lingkungan. Kenapa gue bisa simpulin begitu karena apparently there are homosexual animals. Buat yang masih inget sama pelajaran biologi yang tentang hormon dan kromosom, nah disitulah titik problem bagi para homoseksual yang born to be. Dan buat para homoseksual yang 'terbentuk' karena lingkungan sih lebih banyak faktor psikologis ya dari pada biologisnya. Karena ada temen gue yang tadinya 'normal' memutuskan untuk jadi homoseksual karena dia pernah sangat sangat tersakiti sama pasangan heteronya. And now for almost 10 years, she's still happily remain lesbian. CMMIW ya :)

    Mungkin buat yang masih penasaran, ini gue share beberapa link yang mungkin bisa sedikit memberikan pencerahan yang rada ilmiah dari penjelasan gue diatas. :D

    http://en.wikipedia.org/wiki/Homosexuality

    http://www.youtube.com/watch?v=PSQSx3OCrXQ&feature=g-hist

    http://www.youtube.com/watch?v=I_juW7PP-qA&feature=related

    Once again, yang gue tulis diatas itu semua murni tentang apa yang gue percaya tanpa ada niatan menggurui, apalagi menggurui ya, just for sharing :)

    Terima kasih banyak ya Lei :)

    ReplyDelete
  15. apa bedanya kita yang mendiskriminasikan temen2 kita yang gay sama orang2 kafir yang ngelemparin Nabi pake batu waktu perang karena beliau "Islam"? Ga ada ah kayaknya. Sama2 menyakiti.

    Lagian menurut saya sih, Tuhan (yang manapun kita sembah) itu pikirannya nggak sesempit itu. Mungkin kita yang pikirannya terlalu sempit sampe2 mikirnya kita tau semua hal tentang agama/Tuhan kita.

    :)

    ReplyDelete
  16. Ah..aku jdi inget alm.papaku..waktu aku lg galau2nya ttg agama,dan papaku bilang.."Kamu ga perlu jadi muslim untuk jadi anak papa.."

    :)

    ReplyDelete
  17. sokil gob ya tulisannya...

    Udah pernah diskusi ini sama suami, dan kita tau walaupun berakhir dengan scene "bapak nabokkin anak" gara-gara pilihannya, dia ngga akan berubah, atau pun apa yg dikatakan "sembuh".

    kecuali ortunya mau denial seumur idup.

    Sebenernya yg paling ditakutin ortu dr hal ini adalah gimana respon lingkungan sama anak kita (gue belom mau bawa-bawa Tuhan dulu deh). Ngebayangin respon orang-orang sama anak kita, ngebayangin respon orang terhadap ORTUNYA.

    ReplyDelete
  18. Hello, Mbak Lei...

    aku selama ini adalah pasif reader dsini, just enjoy your writing. tapi untuk yang kali ini aku tergelitik pengen ngasih tanggepan..

    Well, aku agnostic actually, padahal lahir dari keluarga chinese-buddha taat sampai usia 16 tahun, sekolah di sekolah katolik sampai selesai kuliah, kristen dari umur 15-18, dan jatuh cinta dengan Islam pas pertama kali belajar hukum islam di Fakultas Hukum.

    tapi diusia aku 18-19 tahun ak mutusin untuk jadi agonostic aja, aku percaya akan tuhan, tapi maaf- belum percaya akan agama. Buatku agama yang terbaik adalah satu "jangan menyakiti orang lain". Mungkin terdengar terlalu simpel ya, tapi salah satu alasan aku belum bisa memeluk salah satu agama adalah itu, masih banyak pengikutnya yang saling menyakiti.

    karena pikiran itulah aku jadi gak pernah offense sama kaum GLBT (Gay, Lesbian, Biseks dan Transgender). IMO, buat saya mereka ga menyakiti siapa" kok. Well, mungkin orang tua mereka "merasa tersakiti", tapi itu bukan kemauan mereka kan? We cant please everyone.

    Soal AIDS, penyakit, stigma, itu adalah pilihan mereka loh, dan mereka sudah aware dengan konsekuensinya. Yang sering bikin aku sedih adalah, kebanyakan keluarga dari kaum GLBK merasa tersakiti, merasa sedih karena anaknya "menyimpang" padahal IMHO, mereka lebih tersakiti bukan karena ke-gay-an mereka, tapi lebih karena cara keluarga dan sahabat memperlakukan mereka.

    kadang orangtua, paman, bibi, kakek, nenek,aa, teteh, tenggelam dalam rasa kasihan sama diri sndiri daripada perduli sama pergulatan batin mereka. padahal siapa sih yang mau ajdi GLBT?

    Aku selalu percaya Tuhan itu besar, dan setiap apa yang dia ciptakan selalu ada porsinya. Jadi biar Tuhan yang menghakimi. manusia gak layak menilai sesuatu itu dosa atau bukan kok..

    Anyhoo, bukan bermaksud menggurui ya, aku juga ga tau kalau nanti aku punya anak sanggup gak ya aku begitu? Ini cuma pikiran ideal aku aja sih..: )

    tapi kita berdoa aja kan ya Mbak? semoga anak" kita diberi yang terbaik sama Tuhan. dan seandainyapun tidak, semoga kita bisa tetep kuat dan bijaksana menyikapinya.

    Cheers,
    Aralee

    ReplyDelete
  19. blogwalking dan sampai kesini.. :)
    untuk ukuran orang Indo ini masih terbilang so called 'tabu' dibicarakan. Tapi gw berpikir dan berharap seperti halnya orang-orang sekarang lebih bisa menerima perceraian mungkin saat nanti orang-orang juga bisa lebih terbuka menerima gay.

    ini diluar konsep agama yaa,, Bukan sekuler tapi mencoba merasakan apa yang dirasakan gay. They didnt ask to be 'different'

    Nice post :)

    ReplyDelete
  20. Halo mbak lei, I've been your quite reader for sometime. can't help my self to drop some comment sama curcol sama kalimat mamah yang semalem bilang 'kalo misalnya nikah gk pake jilbab gk bisa'.

    saya juga jadi mikir, pulang ke indonesia dan lahir di lingkungan 'agamis' kaya dihadepin lagi sama masalah yang sama.. bukan masalah sih sepertinya, sebuah beban yang kadang jadi merasa tidak nyaman karena seolah dihakimi karena penampilan. kalo boleh dibilang saya masih berfikir ada banyak hal yang lebih penting dari sekedar menghindari dan khawatir tentag apa yang akan orang lain bilang. dipaksa keras dan di push dan dihakimi sama orang tua sendiri itu rasanya sedih, rasanya merasa pengen open tapi gak bisa.. lebih memilih diam karena tidak sanggup dengan konfrontasi.

    segini aja saya udah gelisah yah, karena ngerasa belum saatnya, dan memang masih nyaman begini. masih juga belajar mencintai diri sendiri. gimana yang terlahir homo seksual yah ? harus bohong seumur hidupnya dari pada takut sama kenyataan bahwa gk ada yang bisa nerima perbedaan yang dia sendiri gak pilih.

    PS : 2 Minggu lagi saya lamaran, sooo....

    ReplyDelete
  21. hey all, I came across this written while blog-walking. I just wanted to share a story about my sister who just ended hes life a week ago. She's is still very young, just 20 years old. She's a lesbian. We're just two sisters with only one year of age difference. We're very close to each other. Since childhood we have always shared everything. There are no secrets between us whatsoever. Until one day, about eight years ago, I began to see something different with her. But I never dared to ask until she herself shared it with me that she felt there was something strange about her. We are entering the age of puberty together. But her interest and any sexual desire towards men is nothing. She didn't feel what I feel towards men. On the contrary, she felt that crush towards women. We both keep this to our parents. We are still too young back then to understand what really happened. Until five years later we though we're understand enough and brave enough to speak the truth to our parents. At that time our father was silent and did not say anything, except evict my sister from our home. While my mother did not stop crying for weeks. I can not do anything except helped her pack her clothes. For three years long she lived without any recognition from our entire family, except me of course. She was discarded like a spoiled food. And along three years of that alienation, I secretly keep maintaining a good relationship with my dearly sister. She's a good girl and very very religious. Even up to the end of her age she never dared a love relation with anyone. I thought all of my efforts to keep her accompany is enough. Turns out it did not fix anything. About a week ago, as usual I came to her apartment and found her lying in the bathroom floor with open mouth full of froth smelling like clorox. It broke my heart into million pieces . My only one sister, my closest best friend has gone away forever. Just because something different with her that she never asked for. Through this story I just wanted to share my lost so that any of those who had whether friends or family are homosexuals should not alienate, punish, or judge them whatsoever. They need us to get through those difficult times. They need support, love and our faith. A little note that I quote from my belated sister a few years ago. "If I had a choice to decide what I'm going to be when I was born, if I knew being a homosexual could be this hard and painful, I better to not have been born"

    Thank's to Leija to give me chance to share my personal story...

    ReplyDelete
  22. hi lei,

    ijin link ini bolehhhh?
    aku suka

    ReplyDelete
  23. Cathy: Incredibly moving story :( Thanks so much, Cathy, for sharing it with us. I can only imagine how hard it was for you and your sister. All my prayers for her ya, may she be much more in peace up there...

    Lickerish Delish: Boleh kok :)

    ReplyDelete