Apr 12, 2011

Indochina, part 2

Day 2 - 13 Maret 2011
Singapore - Hanoi

5.00 Belajar dari pengalaman (pahit) kemaren, kali ini kami nyetting alarm dengan baik dan benar, sehingga sukses kebangun tepat subuh waktu Singapore. Alhamdulillah wa syukurillah. Tapi teteup, terpaksa oles-oles lem UHU di kelopak mata, karena tidurnya kurang dari 5 jam, zzzz.

6.00 Checkout berjalan dengan cepat dan mulus, mungkin karena hotel ini udah terbiasa ngurus checkin - checkout yang terburu-buru yaa (WINK, WINK).

Oya FYI, kami memang sempet ngeliat pasangan-pasangan muda imut yang (kami asumsikan) ngambil paket jam-jaman di hotel ini. Yang muda, yang bercinta yaaa, ck ck ck.


Kelar checkout, langsung meluncur ke Changi dengan taksi.

7.00 Di Changi, sempet terjadi drama kumbara karena T minta turun di Terminal 2, padahal kami terbang naik Tiger Air lagi. Pan kemaren mendarat dari Tiger Air di Budget Terminal? Harusnya sekarang kesana lagi dong ya?


What were we doing in Terminal 2? Dan kenapa pake foto-foto segala?

Ternyata emang si T salah. Minta dicaplok deeeh... Akibatnya, kami terpaksa hijrah ke Budget Terminal yang ternyata jauuuuuh sekali dari terminal-terminal utama. Musti jalan jauh, naik turun lift, naik monorail sekali, naik bus sekali, baru nyampe. Nggak sekalian naik sampan nih, biar komplit?

7.45 Setelah checkin dan sarapan di Budget Terminal, kami ngantri boarding pesawat. Edodo'eee, ternyata dihadang masalah lagi.

Jadi, sejak di Jakarta, kami sudah berencana untuk nge-pre-book jemputan di bandara Hanoi, gara-gara kebanyakan denger cerita penipuan taksi bandara. Setelah ngontak temen yang tinggal di Hanoi, saya dikasih tau nomer telp supir sewaan langganannya. Harusnya kami ngontak si supir 24 jam sebelum mendarat di Hanoi, tapi lali rek! Lupa selupa lupanya.

Akhirnya, sambil ngantri boarding pesawat, kami nge-SMS si Pak Supir dengan panik, berharap do'i masih sempet jemput kami kami. But oh ish, SMS-nya nggak delivered-delivered!

Lanjut ke Plan B: ngimel hotel kami di Hanoi (untung BlackBerry service masih jalan) untuk kirim jemputan ke bandara nanti. Kebetulan si hotel emang sempet nawarin jemputan, tapi kami tolak. Sekarang kualat, and we asked if it's still possible to pick us up in the airport... sekitar tiga jam lagi. Dadakan ya, Buuu.

8.00 Tanpa sempet nunggu balasan email, kami udah harus naik pesawat. HP pun harus mati. Sumpah, deg-degannya ngalahin mau ketemu gebetan. Apakah email berhasil diterima dan kami sukses djemput di airport? Bismillahirrohmaanirrohiim.

 
Acting cute dengan bacaan-bacaan berkualitas

10.00 Perjalanan Singapore - Hanoi memakan waktu hampir 3 jam, dan kami sampe sekitar jam 10.00 waktu lokal.

Turun di No Bai International Airport, kami disambut oleh suasana International Arrival Gate  yang gloomy dan sepiiii banget. Horor. Tapi yang lebih bikin horor adalah seragam para petugasnya.

Nggak tau kenapa, saya dan T selalu terintimidasi sama seragam polisi negara komunis. Apa karena warnanya yang selalu beraksen merah? Pokoknya saban ngeliat mereka, bawaannya pengen jalan cepet a la kebelet pipis. Beda kalo ngeliat polisi Indonesia, bawaannya pengen nari India (yeuk).

Mungkin karena orang Indonesia terlanjur kena doktrin nggak bener soal komunis ya. Padahal sistem sosialis, kalo dijalani dengan bener, hasilnya bisa dahsyat banget seperti yang terbukti di Cina. Dan di sepanjang karir traveling kami, kami paling suka ke negara sosialis lho. Tapi ya itu, seragam polisinya mana tahaaan...

Anyway, lanjut!

Pertama, kami nge-cek ke counter visa on arrival. Apakah turis Indonesia perlu visa? Ternyata nggak. Dan selain visa, dateng ke Vietnam juga nggak perlu isi kartu embarkasi. Mak, santai 'kali ni negara! OK, lanjut!

We then went through the immigration checkpoint. Hebatnya, salah satu petugas di counter immigration checkpoint ini lagi tidur, dan nggak mau diganggu! Jadi pas saya berdiri di depan counter imigrasi tersebut, saya dipersilahkan pindah di counter sebelah aja karena dese sedang sibuk sekali.... tidur. Zzzz. Gokil deh si sob. Untung sepi, jadi nggak ada antrian.

Ketika sudah lewat checkpoint imigrasi, kami tengok kanan-kiri, nyari si jemputan.

Nggak ada.

Mulai dag-dig-dug.

Kami nyamperin Tourist Information Center, dan dengan PD minta mbak-nya nelponin hotel, trus minta tolong tanyain, kami udah dijemput belum. Hahaha, enak aja ya nyuruh-nyuruh, kayak tuan besar? But from experience, we know that as long as you're nice and put on a big smile, you can ask for almost ANYTHING in Tourist Information Center.

Alhamdulillah, katanya kami udah dijemput dan tinggal tunggu aja.  Nanti si penjemput bakal nyamperin kami. Sambil nunggu, T cecentilan ngobrol sama si mbak TIC yang udah berbaik hati nelponin hotel, sementara saya people watching aja.

Here's my first impression of northern Vietnamese people:

Mereka terbagi ke dua jenis -- jenis yang mukanya mirip sama orang Indonesia (kulit sawo matang, hidung pesek, mata besar), dan jenis yang lebih mirip orang Cina. Bagi yang mukanya ke Cina-Cinaan, they can be very beautiful. Mata sipit tapi nggak terlalu merem, almost almond-shaped, kulit putih bersih, dan pipi bersemu merah. Hampir seperti indo Cina-Caucasian, nggak seperti orang Asia murni. Kece lah! Bisa diorbitin di Multivision Plus.

Saya nggak pernah ke Vietnam selatan seperti Ho Chi Minh, tapi saya curiga disana tipe wajahnya nggak seperti ini. Kayaknya sih, kulit putih bersih dan pipi memerah ini akibat udara Vietnam utara yang jauh lebih dingin daripada selatan. Kalo udara sehari-harinya panas-ujan nggak jelas, mungkin mukanya juga pada nggak jelas kayak orang ....... *ngaca*

Menurut sumber lokal, temperatur Hanoi hari itu adalah 18 derajat Celcius. Tapi sesungguhnya kami sangsi, karena meskipun kabut super tebal sampe menyelimuti seluruh kota, rasanya anget-anget aja tuh. Kami mengharapkan udara sedingin Bromo, eh tapi rasanya paling mentok kayak di Taman Safari deh, sebel... *bakar jaket tebal bulu domba*.

Teori T sih, kami udah kebal sama udara dingin. Nggak sia-sia ya, kita ke Yurop saban bulan!

Anyway, akhirnya jemputan dari Rising Dragon Hotel muncul juga, dan kami memulai perjalanan panjang menuju pusat kota Hanoi.


Say hello to smoggy Hanoi

12.00 Jarak airport - pusat kota Hanoi cukup jauh, sekitar 40 km. Setelah sekitar sejam perjalanan, kami sampai di keriuhan Old Quarter, tepatnya di Rising Dragon Hotel.

Hotelnya sendiri tipikal hotel low-budget ala Hanoi--sempit, tinggi keatas, tapi nggak ada liftnya, maak... Bentuknya nggak seperti hotel, tapi lebih seperti kos-kosan berbentuk ruko. Pencahayaan dan ventilasi Rising Dragon Hotel ini kurang bagus alias agak sumpek. Mungkin supaya angin dingin nggak masuk ya. Tapi karena kondisi hotelnya juga berdebu, alhasil debu-debunya nggumpel di dalam. Dan sejujurnya, gue menangkap hawa ngeri a la Bates Motel disini, aduuuh *gremetan* Tapi berbekal bismillah, Yasin, dan jurus kepret sajadah, Insya Allah bakal aman sentosa, amiiin.

Penampakan dari depan, more or less:
Photos of Rising Dragon Hotel, Hanoi
This photo of Rising Dragon Hotel is courtesy of TripAdvisor

But the good thing was, anggapan saya tentang kejutekan orang Hanoi langsung sirna berkat kru hotel yang ramah. Murah senyum, pinter basa-basi, dan Inggrisnya juga bisa dimengerti dengan baik. Senangnyaaa...

Check-in berjalan mulus, dan kami dibantu seorang bellboy untuk nggotong koper ke kamar yang terletak di lantai... 5. Inget 'kan tadi gue bilang nggak ada lift? Verdomme!!!

Alhasil, sampe kamar, napas udah Senin-Kemis. Pusing ngebayangin mesti bolak-balik mendaki gini terus! Tapi kami tetep semangat dan nggak mau buang waktu. Jadi setelah taro koper di kamar, langsung turun lagi untuk jalan-jalan.

13.30 First things first: cari makan di Old Quarter!

Seperti yang udah pernah saya ceritain, Old Quarter nih adalah 'kota tua'nya Hanoi, sekaligus pusat turis. Kalo Bali punya Kuta, Jakarta punya Jalan Jaksa, Bangkok punya Khao San Road, maka Hanoi punya Old Quarter. Kompleksnya penuh dengan penginapan berbagai tipe, cafe, jajanan pinggir jalan, toko souvenir, dan penjaja kaki lima. Old Quarter nih luar biasa padat, terutama oleh motor. Sehingga bagi para bule, jalanan disini mungkin agak bikin stress karena kelakuan motor-motornya lumayan edan, tapi buat orang Jakarta? Feels like home.

Sempet bingung mau makan dimana, but we finally settled for a humble cafe. Tempatnya biasa aja sih, tapi tentu saja yang penting harganya *kekepin Vietnam Dong yang cuma seimprit*.



A glimpse of Old Quarter from inside the cafe

Seperti biasa, saya mesen makanan ter-lokal yang saya tau. Dalam kasus Vietnam, ya lumpia dan pho (FYI selama disini, saya bener-bener nggak makan apapun selain lumpia dan pho).

Ketika pho ga (mie ayam yang terbuat dari vermicelli beras) dan lumpia saya dateng, langsung disikat saking lapernya. Apalagi dari Jakarta udah ngebayangin enaknya makanan Vietnam. Makanan di restoran Vietopia Menteng aja enak, apalagi di kampung halamannya dong yaaa...


Tapi baru nyuap satu sendok, langsung pengen ta' lepeh lagi. Makjang, rasanya hampir nggak beda sama... air putih. Kok tawar gini?

Nyettt, baru inget deh. Kata orang-orang, rasa makanan Vietnam utara dengan Vietnam selatan memang beda. Secara umum, rasa dan bumbu lebih terasa di makanan Vietnam selatan, mungkin karena letaknya yang lebih dekat dengan pusat bumbu Asia Tenggara (Indonesia, Thailand).

Oh my gulay, buyar seketika cita-cita gue wisata kuliner enak di Hanoi. Gusti, mudah-mudahan makanan hambar ini hanya terjadi di cafe ini aja deh, nggak di penjuru Hanoi!

Setali tiga uang dengan nasi gorengnya T. Penampakannya sih seru, kayak nasi goreng Jawa. Tapi pas disuap, teteup hambar-hambar pisang. I'm not a foodie, tapi kalo kayak gini, mau pulang aja deh rasanya! *berlebihan*

Nevertheless, selalu ada silver lining di setiap awan kelabu. Kata T, at least rasa bia hoi-nya (bir Vietnam) lumayan enak, dan harganya murah berat. T doesn't normally drink sih, tapi dia suka nyobain semua produk lokal di setiap negara kunjungan, termasuk birnya (later in this trip, T bakal nyobain bir Kamboja dan bir Laos juga).


First taste of the local lager!

Sedikit pengetahuan: bia hoi bukan merk, tapi tipe draft beer. Kandungan alkoholnya kecil sekali, jadi enteng banget. Bia hoi yang T coba adalah tipe botolan dari pabrik, tapi kalo pengen nyoba rasa yang lebih original, kudu ke warung-warung pinggir jalan yang ngeracik bia hoi sendiri di jirigen bensin, hihihi (tapi nggak bau bensin kok)

14.30 After lunch, we rode a cab to Temple of Literature.


Temple of Literature sebenernya adalah kuil Confucius yang kemudian menjadi 'universitas' pertama di Hanoi. Bayangannya jangan kayak Harvard University gitu ya, tapi intinya lokasi higher education kaum elit jaman dulu. Imperial Academy gitu lah. Kuil ini juga berfungsi sebagai lokasi ujian nasional mereka, dan katanya jaman dulu, yang nguji tuh Kaisarnya langsung.

Temple of Literature ini berfungsi selama 700 taun, dari 1076 sampai 1779.



 

 




Kata T, mahasiswa jaman dulu kalo mau bayar kuliah, transfer lewat ATM sini *krik krik*


Have I told you that I'm easily impressed? Diajak ke Monas aja saya hepi lho. T, on the other hand, is the exact opposite. Dari mulai naik canoe di Danau Batur sampai ngedaki The Great Wall of China, MUKANYA LEMPENG. Atau pas lagi nonton acara final American Idol atau Live to Dance, saya pasti tepok tangan mulu sementara T (dengan lempeng) cuma bilang, "Yang bagus cuma satu, yang lain jelek." How could you neeeyk, how could you...

Maka seperti biasa, di Temple of Literature ini T nggak menampakkan ekspresi excited. Disaat saya nyari detail unik untuk dipotret, T cari tempat duduk. Disaat saya ngekslor setiap pojokan, T ngupil. Tapi bukan karena sih misua males lho. He actually read the about Temple of Literature dan paham ini tempat apaan, tapi menurut dia tempatnya kurang spektakuler aja (my abundant apologies to the Vietnamese).

So, OK, maybe it was not the most exciting cultural heritage place in the world. But the place was still more than 1000 years old, harap hormat sedikit dong deh *keplak T* For me, it was still a great historical site.


Too cool for old-school school


15.30 Kami lanjut berjalan kaki, dengan tujuan Lenin Park. Tapi di tengah jalan, kami nggak sengaja nemu Vietnam National Museum of Fine Arts, dan merasa kudu nyamperin.



My husband is too sexy for my shirt... too sexy for my shirt...

Koleksi museum tersebut terdiri dari karya-karya seni dari berbagai periode dan tema (religius, patriotik, nasionalisme, dll). Ada karya seni pahat kayu, patung batu, lukisan di kain, dan sebagainya. Walaupun nggak ada karya yang super inovatif atau kontroversial, saya suka sama semua yang dipajang. Karya-karyanya halus dan khas. Favorit saya adalah sebuah ruangan berisi berbagai patung Buddha, termasuk sebuah perwujudan Boddhisathiva yang guedeee banget. Epic, almost scary.

Secara keseluruhan, bangunan museumnya kira-kira segede Museum Fatahillah. Tapi anehnya, lantai yang bisa di-eksplor hanya lantai dasar. Ruangan-ruangannya pun nggak gede. Jadi intinya, areanya kecil. Sayang banget, karena menurut saya museum ini bagus dan sangat terawat. Koleksinya mungkin nggak terlalu ekstensif, tapi penataannya rapih dan bersih.

Saya juga kagum sama penjaga museum yang terlihat cuma dua orang. Biarpun pengunjungnya waktu itu cuma kami berdua (sepi bener, bok), mereka tetap keliatan alert, siaga, dan mengisi waktu dengan baca novel atau koran instead of bobok atau cabut jenggot pake koin. And honest to God, they seemed very intellectual. Seperti pensiunan guru yang mungkin passionnya memang di sejarah budaya, sehingga kemudian jadi penjaga museum.

Kenyang liat-liat museum, kami lanjut jalan ke tujuan semula: Lenin Park.

I love Hanoi's atmosphere that afternoon. Langitnya super kelabu dan kabutnya lumayan tebel. Apalagi kami jalan melewati kawasan yang tampak sepi, cuma berisi deretan bangunan tua, pohon gundul,  dan beberapa sepeda lalu lalang. Bawaannya pengen bikin puisi deh. Very romantic, in a vintage way.



Kami pun melewati kawasan perumahan elit, mirip daerah Menteng di Jakarta. Kami juga berpapasan dengan sejumlah kakek-kakek tukang cukur di pinggir jalan, dan serombongan anak-anak muda yang jajan baguette. Namanya juga bekas jajahan Prancis yaaa... kalo di Jakarta kita jajannya somay, disini yang dijaja diatas sepeda adalah baguette ;)



Perumahan jadul yang mirip banget sama daerah Menteng. By the way, bingung nggak sih lo ada mobil parkir di trotoar?


Pemandangan umum di jalanan Hanoi -- tiang listrik yang kabel-kabelnya kusut minta ampun! Stress nggak sih jadi tukang listrik disini? Belom apa-apa musti bikin surat wasiat!

16.30 Akhirnya sampe juga di Lenin Park.


Taman ini sebenernya biasa aja. Nggak ada fitur unik kecuali sebuah patung Vladimir Lenin segede-gede gaban berdiri di tengahnya. 


Dulu Lenin Park ini adalah tempat pembuangan sampah, tapi kemudian direvitalisasi oleh Ho Chi Minh. Trus, waktu perang sama Amerika, Vietnam 'kan dibantu Soviet, maka dibuatlah patung Lenin raksasa ini sebagai tanda penghormatan.

The park seems popular with teenagers. Asli, dikuasai oleh remaja-remaja bok, yang lainnya cuma ngontrak! Ini terbukti oleh para bapak-bapak yang pengen olahraga, atau emak-emak yang mau nyuapin balitanya, musti melipir ke pinggir taman. Karena kalo ke tengah dikit, terancam ketimpuk bola para remaja yang pada main disitu. Tegaaa...

Aktivitas yang dilakukan para anak muda disana waktu itu cuma tiga macem: main bola, b-balling, dan breakdancing. Lucu ya? Ternyata komunitas breaking dan b-balling lumayan rame di Hanoi.


Tapi yang bikin paling menyenangkan dan beda sama Jakarta, Lenin Park ini bebas asongan. Murni dikuasai penduduk yang ingin beraktivitas sore-sore.

We spent half an hour here, just sitting around. Mungkin karena kecapekan jalan ya, jadi bawannya ngaso. It was a pleasure anyway to people watch, aaahhh *guling-guling di trotoar*


17.00 Bosen duduk-duduk, kami pun nyegat taksi untuk balik ke hotel. Kebetulan dapet taksi argo kuda Hanoi yang sangat terkenal itu, siakek... Argonya bener-bener dibajak seenak hati dan jiwa. Misalnya dari Rp8,000, semenit kemudian bisa gitu jadi Rp16,000?

Tapi katanya, jalan-jalan ke Hanoi tanpa kena taksi tukang tipu itu ibarat pengen berenang tanpa basah. NGGAK MUNGKIN. Jadi sabar aja, ikhlas, atau jalan kaki.

Sampe hotel, sumpah capek secapek-capeknya umat, sampe membatalkan niat nonton Thang Long Water Puppets. Hanya sanggup mandi, trus tiduran sampe pingsan.

Oya, kamar kami di Rising Dragon Hotel ini jauh lebih luas daripada Hotel 81, alhamdulillah. Kebersihannya sih tetep agak dipertanyakan, tapi yang menyiksa bukanlah itu, melainkan kasurnya yang kayaknya terbuat dari batu bata.

Neyk, nggak bohong. Dipannya persis seperti batu. KERAS BANGET. Kayak nggak ada kasurnya!  Kayaknya kalo membanting diri di kasur ini, langsung geger otak deh. Pernah bobokan di matras olahraga yang digelar di lantai marmer? Nah, kurang lebih begitulah.

Mungkin ini kebiasaan orang Vietnam ya, soalnya kasur keras 'kan sebenernya justru lebih bagus buat punggung dibanding kasur empuk. Tapi bagaimana dengan nasib turis-turis malang dari Endonesi ini, yang terbiasa dimanja oleh kasur Serta? Nangis aja deh yaaa...

Tapi karena hotelnya murah banget, lokasinya strategis, air panasnya OK, dan staffnya ramah, kami nggak mau complain. Tetep ditidurin dengan pasrah dari maghrib, dan baru bangun tengah malem karena kelaperan, hihihi. UUP. Ujung-ujungnya perut.

Tomorrow -- more Hanoi exploration, and to Cambodia we go!

12 comments:

  1. horehh di update! itu kamar hotel naga berdiri nya luas juga ya considering penampilan luar bisa menipu (bagi yg udah main underestimate) hahaha!

    ayoo lanjut2.. jgn lama2 ya. hiburan gue di kala senggang nih la.

    ReplyDelete
  2. Kara: Hahaha! Penampilan luar si hotel emang menipu Kar, tapi kamarnya decent kok. Iyaaa, kamar yg deluxe luaaas deh. Kalo yang standar biasa aja sih. But really, we couldn't complain karena mursidaaa berat!

    ReplyDelete
  3. Wihiiii.... Ada updateee... :) *dan gue masih malas alias blm ada waktu ngapdet blog gue*. Kok gue jadi gak gitu napsu ya ke Vietnam? Kemarin temen gue bilang: Gue milih Jakarta, Non..kmana-manaaa... Camer gue bilang: Bosen Non, sampe rombongan nanya, di mana molnya... Terus baca review anda.... Kayaknya kudu dicoret dulu dari daftar trip hehe. Si T tampangnya lempeng, agak agak mirip sama si F alias calon lakiku. Disuruh senyum yang ada merem or kaku hahahaha... Tapi kate temen gue yang orang HRD, yang tampangnye lempeng2 gini, hatinye lempeng juga....*aminnn...*

    Oh iye, Serta di rumah gue, yang extreme pedic, keras kayak batu. Pilihan emak gue tercinta buat kasur die dan kasur gue yg dibeli taon kmaren (adek gue pinter, die pilih yg empuk). Pas pertama kali tidurin, badan gue mo copot saking kerasnye. Tapi abis gitu, mayan deh...enak juga hahahah... (tapi mungkin gak bisa bouncy2 kali ye kalo buat penganten baru hi hi hi *najong*)

    ReplyDelete
  4. ahhhh...emang paling nagih ceritamu mu lei... ;p
    ayo ayo....
    jadi ngga ngerasain gotong koper tuh di hotel naga?
    aku ngerasain gotong koper waktu di amsterdam nginep di red district...ga ada lift...room boy merangkap resepsionis...sooo...silahkan gotong koper sendiri...
    ayooooooo lanjutkan ceritamu....

    ReplyDelete
  5. Leony: Yaaah, Le, jangan put off sama Vietnam gara-gara gue dong hehe. Here's my opinion: Hanoi, or even Vietnam, may not be my favorite place in the world, tapi gue sama sekali nggak nyesel pernah kesana. Malah mungkin mau deh kesana sekali lagi.

    Namanya juga pengalaman jadi traveler ya Le, nggak ada duanya. Biarpun kita plesir ke tengah padang pasir yg gak ada apa-apanya juga, pasti ada kesannya hehehe. I'd say go if you have the chance ;)

    Kecuali kalo duit dan waktu terbatas, dan harus milih sama tujuan lain yaa :D

    HAHAHA kasur bouncy! Iiiihhh *kabur*

    Tari: Hahaha, encok yaa nginep di hotel nggak ber-lift... Bellboy kami juga merangkap jadi koki. Mana badannya mungil sekali, tapi lincah, jadi kita ganti-gantian deh bawa kopernya. Nggak tega!

    ReplyDelete
  6. iiih... dua kali postingan plesir tidak ada foto ente. Hawanya disengaja niiiii ;p

    ReplyDelete
  7. Iyut: Hahaha! Ada sih foto-foto gue sama suami, tapi lagi ciuman, gimana mau gak...

    ReplyDelete
  8. ahahahaha. lucuuuu post nya. mana foto ciumannya? pasang dongg :)

    ReplyDelete
  9. Ovi: My aunt reads this blog *sembunyi di balik tembok*

    ReplyDelete
  10. akhirnya di update *terharu*

    cara nulisnya keren banget siiihh mbaaaakkk.

    Ayoooo nulis terus, crita lagi. Tiap hari gw buka blog ini demi menunggu apdetan loh :D

    ReplyDelete
  11. seruu yaa bisa jalan2 bedua suami..emang bgs nya gitu leii..abis kawin puas2 in jalan2 dulu.

    Trust me..kl udah ada anak kyk gue..ribett mau kemana2.
    ribet duitnya maksudnya haha..ga bisa ala backpacker pastinya kan. jadi semua2 mesti disiapin.

    gue ga sempet jalan2 berdua suami ampe skrg. Abis kawin trus hamilton euy huhu..tetep bersyukur sih masih bisa jalan2 bawa anak..yahh dinikmati aja deh :))

    ReplyDelete
  12. Dhita: Hai Dhita! Iya, kebayang ya, kalo punya anak pasti extra effort beneeer.

    Jadi inget, sempet rajin baca blog sebuah keluarga traveller. Sepasang suami dan satu balita. Mrk gahar gitu travellingnya sampe desa-desa, naik gunung, ke India, sementara si anak digembol aja di punggung. Tapi kuncinya emang: gak bisa low budget/backpacking dan harus full planning hihihi.

    ReplyDelete